Rabu, 11 Februari 2009

Kenakalan remaja

KENAKALAN REMAJA

Banyak diberitakan di surat kabar, televisi, radio, maupun media lainnya. Akan adanya kenaikan angka pembunuhan dan kasus kenakalan remaja di seluruh Indonesia. Amat menyedihkan sekali. Diantara kasus tersebut yang amat memprihatinkan sekali adalah tentang “PEREK” yang artinya perempuan atau perawan Ex perimen. Umumnya perek ini terdiri dari para pelajar yang benar-benar gadis maupun yang sudah bukan gadis lagi yang menjual dirinya pada para bapak atau om-om yang binal.

Dia menjual dirinya dengan cara membolos dari sekolahnya, kemudian langsung mencari mangsa pada bapak-bapak yang sedang mengendarai mobil. Sambil pura-pura ikut numpang, dengan alasan tidak punya uang untuk pulang. Dalam mobil dia berdiplomasi, merayu, tanpa rasa malu untuk meminta uang guna membayar SPP, meminta dibelikan baju, sepatu, tas, dan lain-lain. Tentunya sebagai seorang lelaki yang berada, dia menuruti saja dengan syarat-syarat yang kita dapat menduganya sendiri.

Disamping mereka beroperasi langsung, ada pula yang diageni oleh para mucikari. Pada kasus kenakalan remaja yang amat menonjol adalah perkelahian antar pelajar, misalnya tawuran antar sekolah satu dengan sekolah lainnya karena kasus perek ini pun merembet pada pelajar pula. Masalahnya sepele, biasanya perkelahian ini terjadi diakibatkan karena adanya rasa ingin menguasai tempat kekuasaan atau terjadinya ejekan antar sekolah atau mungkin membela temannya karena sudah diperlakukan senono/tidak wajar oleh anak-anak sekolah lain.

Mereka sebenarnya sadar dengan apa yang dilakukannya itu, akan tetapi ada sebab-sebab dari terjadinya kenakalan-kenakalan tersebut. Sebagai penyebab pertama adalah: Kurangnya pendekatan orang tua kepada anak, dikarenakan kedua orang tua terlampau sibuk dengan urusan di luar rumah. Sang ayah sibuk bisnis, sedang sang ibu terlalu aktif dalam organisasi kewanitaan, senam, les kecantikan, les keterampilan, penataran, simulasi, arisan, bisnis kecil-kecilan dan acara-acara lain untuk meningkatkan prestise.

Menurut fitrahnya anak amat membutuhkan perhatian dan kasih sayang, perhatian dan kasih sayang akan timbul subur apabila sang ibu selalu di rumah sehingga mudah berkomunikasi, apabila orang tua jarang di rumah anak akan merasa gersang, dia akan melampiaskan kegersangannya dengan cara kompentasi yang dirupakan dalam bentuk-bentuk mencari perhatian pada orang lain dengan berbuat onar. Oleh karena itu para pelaku kejahatan banyak dijumpai justru dari kalangan anak-anak orang mampu/terpandang dan pejabat.

Kemudian penyebab kedua adalah faktor lingkungan:

1. Gambar film dan iklan film yang merangsang

2. Film-film yang jorok. Khususnya film produksi dalam negeri sendiri, melihat judulnya saja sudah merangsang dan memuakkan apalagi isinya, lebih-lebih para penjaga karcis sudah tidak seteliti dulu lagi, anak kecil boleh masuk meski yang diputar film 17 tahun ke atas.

3. Berkat kemajuan teknologi yang memungkinkan memutar sendiri caset-caset blu film, yang sulit diawasi peredarannya.

4. Tersedianya sarana atau fasilitas berbuat mesum: panti pijat (timung) dengan para pemijatnya yang terdiri dari kaum hawa, night club, pemangkas rambut dan pijat oleh kaum hawa/barber shop, tempat bordil yang terlokalisir maupun yang tidak.

Penyebab ketiga adalah: Kurangnya pendidikan agama di sekolah-sekolah, sehingga rasa keTuhanan menjadi menipis, yang memudahkan para remaja kurang mempunyai kontrol sikap.

Penyebab keempat adalah: Kurangnya tauladan yang baik dari atasan, mereka kaum remaja sering dipompa dengan teori-teori moral akan tetapi kenyataannya, sikap para atasan justru kurang mendidik, sebagai misal adalah kasus korupsi yang merugikan Negara dan rakyat kecil. Bermilyar-milyar para pemimpin kita melakukan tindakan korupsi. Mungkinkah ini pelakunya para remaja?!

Jadi dari analisa tersebut di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa, penyebab paling banyak dari kenakalan-kenakalan remaja adalah disebabkan karena kenakalan bapak-bapak.

Mengingat masyarakat kita adalah terdiri dari kumpulan-kumpulan rumah tangga. Maka dalam mengatasi masalah ini sebaiknya dimulai dari keadaan tiap-tiap rumah tangga itu sendiri. Rumah tangga terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Seorang anak akan taat kepada orang tua, apabila orang tua tersebut taat pula kepada orang tuanya.

Jadi faktor pertama yang menentukan agar generasi kita menjadi para generasi yang taat, adalah tergantung dari sikap orang tua kepada orang tuanya. Faktor kedua yaitu hendaklah para orang tua menasehati anak-anaknya dalam soal-soal:

1. Menyadarkan atau mempertebal kepercayaan (iman) mereka kepada Allah

2. Pengamalan shalat

3. Berbuat baik

4. Mencegah kemungkaran

5. Kesabaran dalam menghadapi resiko hidup

Jadi jika para generasi kita dikenalkan kepada Allah yang mempunyai sifat-sifat Yang Maha Peka. Maka setiap lakunya akan merasa diawasi oleh Tuhannya, dimanapun ia berada, dengan rasa keimanan setiap yang dilakukan akan diperhitungkan, berakibat nafsu akan dikendalikan.

Rasa iman ini selanjutnya akan terpupuk bila dia selalu aktif menegakkan shalat lima waktu dalam sehari, tanpa realisasi ini dia akan menjadi terkikis imannya dan menjadi kaum kebatinan. Dengan setiap melaksanakan shalat lima waktu, akan membuahkan perilaku yang baik dan dapat mencegah dari perbuatan munkar. Jika sudah demikian dia akan menjadi remaja yang sabar dan tangguh.

Sebagai orang tua, seharusnya memberikan tauladan yang baik kepada generasi muda, jangan hanya pandai bernasehat dan berkisah, sebab setiap langkah orang tua menjadi cerminan jua bagi generasi muda, sebab jika hanya pandai bermanis lidah, akan berlipat murka dan kebencian Allah.

Sekarang adalah zamannya penatara-penataran, jika benar-benar penataran itu ingin berhasil, maka faktor pertama yang harus diperhatikan adalah instrospeksi dulu pada diri masing-masing penatar. Sebab jika tidak, akan menjadi pergunjingan anak buahnya yang ditatar, disamping akan menghasilkan sifat munafik (2 muka) maka mengakibatkan gape/jarak yang semakin menganga, akan kelihatan persis seperti aktor yang bersandiwara, semakin ditatar korupsi semakin merajalela.

Kenakalan remaja pada dasarnya merupakan akibat dari kurang hati-hati dan kurang perhatian orang tua terhadap anaknya. Maka perlu sekali para orang tua untuk menyembuhkan mereka dengan ajaran agama, dimulai dari orang tua itu sendiri untuk meningkatkan pengetahuan ajaran Islam, kemudian secara aktif menunaikannya, baru demikian melangkah kepada:

1. Memperbaiki sikap kita kepada kepada orang tua kita sendiri

2. Menasehati mereka

3. Para ibu lebih betah berada di rumah

4. Menauladani mereka dengan perbuatan, akhlaqul karimah (perbuatan yang mulya)

5. Mendo’akan keluarga secara kontinyu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar